~Lampu Merah~ Ketahanan Pangan
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Hilman Idris dan Ketua Panggar DPR RI Emir Moeis mengungkapkan bahwa harga kebutuhan pokok masyarakat makin tak terjangkau.”Pemerintah terlalu hanyut oleh liberalisasi perdagangan sehingga lupa akan tugas pokoknya. Sampai-sampai kedelai jadi langka dan mahal”, ujarnya. “Dulu, janjinya akan melakukan revitalisasi pertanian dan nyatanya harga sembako seperti telur, daging, beras, minyak goreng, tepung terigu, jagung dan kedelai terus menanjak dan tidak terlihat akan turun dalam kurun waktu dekat ini.”, tegasnya.
Menko Perekonomian Boediono merespon hal ini dengan pernyataan bahwa Pemerintah akan mengumumkan paket kebijakan menyangkut ketahanan pangan untuk menstabilkan harga bahan pokok.
Hal ini dianggap sebagai suatu respon yang tidak didasari oleh keikhlasan karena secara kenyataan di lapangan pemerintah tidak memikirkan soal pangan. Para pejabat negara secara kontinyu disuplai dan ditanggung keberadaan pangan dan kebutuhan lainnya oleh kas negara sehingga tidak merasakan langsung apa yang dirasakan oleh masyarakat pada umumnya. Padahal beberapa kurun waktu yang lalu gejala ke arah terjadinya krisis pangan sudah tampak.
Sidik punya selidik ternyata pemerintah fokus kepada bagaimana mengaburkan pandangan masyarakat umum untuk fokus ‘menikmati’ suguhan mantan orang no. 1 Orde Baru melalui propaganda media massa yang mengekspos ‘Soeharto’ selama 24 hari dan 24 jam. Masyarakat disuguhi nyanyian ‘gugur bunga’ agar ‘penjahat’ korupsi dan HAM ini dikenang sebagai ‘pahlawan’ sedangkan di sisi lain harga kedelai dan keberadaan kedelai sangat mengkhawatirkan bahkan Menteri Pertanian pun hanya mengumbar janji dengan proses penanaman bibit unggul kedelai yang tak tahu kapan akan bisa dikonsumsi oleh masyarakat dan mencanangkan Swasembada Kedelai 2009
Jika kita melihat ke belakang dengan target Program Peningkatan produksi beras 2 juta ton /tahun pada tahun 2007, maka terbukti ketidakseriusan pemerintah karena target ini pun ‘lolos’ dan tak membuahkan hasil bahkan dengan gagahnya janji yang diucapkan “JANJI REVITALISASI PERTANIAN” padahal pengadaan benih untuk program nasional ini sangat diluar perkiraan bahkan tidak mencapai i juta /tahun untuk produksi beras
Maka pada 30 Januari di Istana Negara, diadakan pertemuan tertutup antara Presiden, Wk. Presiden, jajaran Menteri, Dewan Pertimbangan Presiden, Gubernur Jabar, Jateng dan Jatim serta kalangan pengusaha untuk membahas rencana pengumuman kebijakan pangan yang pada malam harinya diumumkan kepada khalayak ramai.
Pesimistis ternyata tidak datang dari masyarakat kecil atau menengah yang selama ini ‘menjerit’ tetapi Ketua kadin M.S Hidayat menyatakan bahwa komitmen dari dunia usaha dengan pemerintah untuk stabilitas harga bahan pokok akan terwujud jika seluruh keluhan dan masalah yang dialami dunia usaha saat ini ditanggapi serius oleh Pemerintah.
Silakan anda menilai apa yang salah dan apa yang benar dalam kasus ini.
Propaganda melalui media massa gencar dilakukan untuk meng’cover’ kondisi dan situasi tetap terkendali sedangkan ‘borok’ yang dalam tersimpan secara potensial. Mirip dengan kondisi ‘Orde Baru’ kah? atau memang kita masih berada pada kondisi Orde Baru dengan ‘topeng’ Reformasi
Sungguh tepat kiranya pada tahun 1999 akhir dan di awal tahun 2000 seorang penulis yang cukup ternama di kalangannya yaitu Al-Chaidar menulis sebuah buku “Reformasi Prematur” karena kita rasakan setelah kurun hampir 10 tahun Reformasi bergulir namun kondisi dan situasi tetap seperti layaknya Orde Baru
Pikirkan, Selami dan Renungi perjalanan kita selama ini. RI tidak akan maju dan berkembang selama masih dipegang oleh orang-orang didikan Orde Baru dan antek-anteknya maka Reformasi bukanlah jawaban dari semua masalah di Indonesia namun REVOLUSI menjadi solusi satu-satunya karena tata aturan, hukum dan ipoleksosbudhankam tidak akan berjalan jika dijalankan oleh orang-orang yang pernah mengkhianati bangsa dan diajarkan untuk berkhianat kepada bangsa.
\m/w@rl0ck\m/
0 Responses to “-|-Sosial & Politik-|-”